Mata, Telinga dan Mulut adalah Jendela Hati
Ada satu kisah tentang seorang manusia. Seorang hamba Allah yang kesehariannya bekerja disebuah perusahaan. Kisah ini nantinya dapat kita jadikan i\'tibar dan pelajaran dalam menjalani hidup dan beribadah kepada Allah.
Pada suatu hari, ia sholat Shubuh berjamaah di masjid. Ketika imam mengangkat takbir, Allahu Akbar, maka ketika itu berlinang airmatanya, kemudian ketika dibacakan surah Al-Fatihah, kembali berlinang arimatanya, begitu juga saat imam selesai membaca Al-Fatihah, kemudia imam diam sejenak untuk memberikan kesempatan kepada ma\'mum untuk membaca Al-Fatihah, ia baca Al-Fatihah, kembali berlinan airmatanya.
Setiap mendengar dan membaca ayat-ayat Al-Quran dalam sholat shubuh itu, terus berlinang airmatanya. Hal itu karena ia melaksanakannya dengan khusyuk. Lantas, kenapa bisa sampai se-khusyuk itu ia melaksanakan sholat?
Ternyata, malam sebelumnya, saat tengah malam, ia terbangun dari tidur, ia ambil wudhu\', kemudian sholat sunnat tahajjud, selesai tahajjud dia baca Al-quran, dia baca dengan lidahnya, dia lihat dengan matanya ayat-ayat Al-Quran itu, dia dengar bacaannya dengan telinganya. Maka semua yang baik masuk kedalam hatinya melalui mata, lidah dan telinganya. Ternyata itulah yang membuat sholat subuhnya saat itu sangat berkesan dan penuh kekhusyukan.
Saat siang, ia kembali ke masjid itu untuk sholat zhuhur, dan ia tetap berharap akan medapatkan sholat yang khusuk sebagaimana sholat subuh tadi. Namun, apa yang terjadi? Saat imam mengangkat takbir, membaca Al-Fatihah, membaca ayat-ayat Al-quran lainnya dalam sholat zhuhur itu, tak sedikitpun berlinang airmatanya. Sholat zhuhur yang khusyuk tidak ia dapatkan.
Padahal, ia sholat ditempat yang sama, di masjid yang sama, dan dengan imam sholat yang sama ketika ia melakukan sholat shubuh sebelumnya. Namun, ia tidak mendapatkan sholat zhuhur yang khusyuk.
Rupanya, saat pagi tiba dikantor tempat ia bekerja, terdapat surat kabar di meja kerjanya. Dia baca surat kabar itu, dia lihat, dia dengar bacaan yang dia baca sendiri, bacaan yang tak sebaik ayat-ayat Al-Quran yang dia baca pada malam sebelumnya.
Baca-bacaan tadi masuk kedalam hatinya melalui mata, lidah dan telinganya, merasuki kedalam setiap sisi hatinya sehingga saat sholat, dia tidak dapat mendapatkan kekhusyukan.
Betapa hati kita sangat mudah dipengaruhi oleh keadaan dan situsai disekeliling kita. Sesuatu yang baik akan menjadikan hati kita menjadi baik. Sebaliknya, sesuatu yang buruk akan menjadikan hati kita menjadi buruk.
Untuk itu, mari kita jaga hati kita agar dimasuki, agar diisi dengan yang baik-baik dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik.
Tag: ISLAM Jagalah Hati blog - by: Geo -- at: 17/05/2012
- by: bosky -- at: 14/05/2012
- by: Arif -- at: 10/05/2012
- by: santoso_aja -- at: 09/05/2012
- by: matakami -- at: 07/05/2012
- by: Lab-Informatika -- at: 28/04/2012
- by: Lab-Informatika -- at: 28/04/2012
- by: Samsul Arifin -- at: 26/04/2012
- by: ridha -- at: 25/04/2012
- by: Ide Pelajar -- at: 25/04/2012






